Maksud dan Tujuan Jaulah

Ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya dengan Judul “Jaulah (Keliling)

Maksud dan Tujuan Jaulah

Maksud dan Tujuan Jaulah antara lain untuk membentuk sifat sabar, tawadu, ikhlas, ihsan, dan sifat lainnya. Sehingga mudah mengamalkan kurang lebih 154 hukum Islam. Sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala memberikan hidayah dan mengekalkan hidayah dalam diri kita dan menjadi asbab tersebarnya hidayah pada diri orang lain.

Keutamaannya :

  • Siapa saja yang mengalami kesusahan untuk mengajak seorang dalam jaulah, maka Allah Subhanahu wa ta’ala akan memudahkan langkahnya masuk ke jannah. Setiap langkah kaki akan mengangkat derajatnya 700 kali di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala dan akan menggugurkan dosa-dosa.
  • Para malaikat dan seluruh makhluk , baik yang di darat dan di laut dan di angkasa memohon ampunan bagi orang yang berjaulah.
  • Para malaikat merendahkan sayapnya untuk dilalui dan debu-debu yang menempel akan menjadi tameng asap api neraka.
  • Berdiri sesaat di jalan Allah lebih baik dari pada shalat sunnat sepanjang malam di depan Hajar Aswad dan pada malam lailatul Qadri.
  • Barang siapa yang terluka di jalan Allah atau tertimpa musibah, maka sesungguhnya ia akan dibangkitkan dengan darah yang masih menetes seperti keadaannya pada waktu ia terluka, yang warna darahnya seperti za’faron dan harumnya seperti harum katsuri.

Kelompok jaulah terbagi dua, yaitu :

  • Kelompok di dalam masjid adalah : (1) dzakirin/mudzakir , tugasnya berdzikir dengan khusyu’ dan berdo’a hingga meneteskan air mata, dan baru berhenti bila jamaah yang diluar telah kembali, (2) muqarrar , tugasnya mengulang-ulang pembicaraan iman dan ‘amal shalih (taqrir), (3) mustami’, tawajjuh mendengar pembicaraan taqrir , dan (4) Istiqbal, tugasnya menyambut orang yang datang ke masjid lalu mempersilahkan shalat Tahiyyatul Masjid , dipersilahkan duduk dalam majlis taqrir, juga menunggu dengan penuh kerisauan dan fikir kepada saudaranya yang belum datang ke masjid.
  • Kelompok di luar masjid adalah : (1) dalil, sebagai penunjuk jalan , sebaiknya dalil adalah warga setempat untuk menunjukan mana rumah non muslim, muslim, ulama, umara, dan ahli masjid atau orang yang belum shalat berjamaah di masjid. Keutamaan seorang dalil  adalah ia lebih dahulu masuk Jannah 500 tahun, (2) mutakallim, sebagai juru bicara, penyambung lidah rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. (3) Makmur, tugasnya berdzikir (dalam hati), tidak berbicara , dan mengantarkan jamaah cash ke masjid , dan (4) amir jaulah, bertanggungjawab terhadap rombongan jaulah. Jika ada yang melanggar tertib maka amir mengucapkan Subhanallah, dan masing-masing mengoreksi dirinya bukan melihat orang lain. Jika masih tidak tertib juga , maka amir memberi targhib dan berhak memutuskan, apakah jaulah dilanjutkan atau kembali ke masjid.

Pada waktu jaulah hendaknya membawa empat sifat :

  • Fikir, dalam berjaulah ini bukan sekaedar melihat-lihat suasana tetapi harus dijalankan dengan penuh fikir dan risau Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam , bagaimana agar umat manusia selamat dari adzab Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga Islam menjadi rahmatan lil’alamin.
  • Dzikir, jangan buat jaulah dengan hati yang lalai , buat jaulah dengan do’a dan mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala, merasa diawasi dan dilihat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan berharap Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan hidayah-Nya.
  • Syukur, hemdaknya bersyukur telah dipilih dan dilibatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dalam tugas yang mulia untuk melanjutkan usaha nubuwwah, padahal kita orang yang dhaif dan tak berilmu, karena sesungguhnya kita tak pantas melakukan usaha yang mulia ini, usaha para nabi dan rasul.
  • Sabar , hendaknya memahami bahwa segala usaha ke arah perbaikan pasti ada rintangannya, iblis dan sekutu-sekutunya tidak akan pernah berhenti sampai hari kiamat untuk menghalangi. Tidak semua orang paham akan amalan ini, kecuali orang-orang yang telah diberi hidayah oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Oleh sebab itu kita akan bertemu dengan orang-orang yang memilii sifat-sifat seperti : (1) Abu Bakar , langsung menyambut baik menerima dan ikut ambil bagian dalam usaha ini (jamaah cash) , (2) Abu Thalib, sangat mendukung dan memberi fasilitas serta membela jika ada yang menentang, tetapi sayang tak mau bergabung hingga akhir hayatnya, karena menganggap derajat bangsawannya akan jatuh jika bergabung dalam usaha ini , (3) Abu Sofyan, masih enggan dan malu, nanti orang-orang berbondong-bondong memeluk Islam , baru bergabng setelah fathul Makkah. (4) Abu Jahal , yang digambarkan menentang keras dan berusaha selalu menghalangi dengan berbagai cara kapanpun dan dimanapun serta dalam  situasi dan kondisi apa saja.

kerja Dakwah adalah kerja yang paling banyak memberikan masehat , sehingga syetan dan kawan-kawannya takkan berhenti menghalangi. Hal ini adalah sunnatullah, sebagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala menurunkan hujan ke bumi ini, ada yang suka dan ada yang tidak suka. Para petani akan bergembira karena tanamannya mendapat siraman air, tetapi sebaliknya, petani yang sedang menjemur padi-nya kurang senang karena jemurannya tidak kering . Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berakhlak mulia, juga tetap diuji dengan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam amal dakwah ini. Dan tetap bergerak walaupun kaum kuffar , musrikun, munafikun, dan fasikin tidak suka.

“Dialah Yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (QS. As Shaff : 9)

Para Nabi dan rasul yang terdahulu pun mengalaminya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :
“Dan seperti itulah telah kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (Qs. Al Furqon : 31)

Sebelum berjaulah seluruh rombongan dipersiapkan . Adab-adab jaulah di sampaikan setelah selesai pembagian tugas agar masing-masing memahami adab-adabnya. Diantara adab jaulah adalah :

  • Berdoa memohon hidayah di tempat yang terbuka
  • Disunnahkan berjalan di sebelah kanan dengan menundukan pandangan seolah mencari barang yang hilang, karena pandangan yang tidak terjaga  akan dapat menyebabkan rusaknya amalan ini, sehingga menghalangi turunnya hidayah. Ketika jaulah kita menundukan pandangan, maka akan mudah mengamalkan Al Qur’an. Tetapi bila tidak menundukan pandangan, tidak akan dapat mengamalkan Al Qur’an, bahkan hafalan ayat-ayat Al Qur’an akan dapat hilang. Memandang yang halal diperbolehkan , tetapi pandangan tersebut dapat mentasykil (mengajak) hati untuk menginginkan barang yang dilihat. Apabila menundukan pandangan, maka akan melihat hakikat tanah tempat kita akan dikuburkan serta batu yang pecah-pecah  ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menghancurkan bumi ini.
  • Dalil dan mutakallim berada di depan, sedangkan amir di belakang
  • Hindari berdiri di depan pintu rumah, apa yang ada dalam rumah bagi orang yang kita kunjungi adalah “aurat“, maka hendaknya kita menghormati pemilik rumah dengan tidak melihat-lihat pemandangan dalam rumah tanpa seizin pemilik rumah. jika kita berdiri tepat di depan pintu rumah kemungkinan untuk melihat isi rumah menjadi besar.
  • Dalil mengetuk pintu rumah ,  jika tuan rumah tidak merespon, maka ketukan diulangi lagi sehingga sampai 3 kali , ditiap jeda saat menuggu respon dari tuan rumah, muttakallim dianjurkan  berdzikir kalimat thoyyibah subhanallah wal hamdulillah wa laailahaillallah wa Allahuakbar (dzikir lisan ataupun dzikir qolbi , yang tidak dikeraskan) , jika tidak ada respon  dari tuan rumah maka jamaah meninggalkan rumah tersebut dengan berprasangka baik.
  • Apabila tuan rumah berada di tempat, maka mutakallim yang berbicara dan semua anggota rombongan mendengarkan pembicaraan mutakallim dengan tawajjuh(konsentrasi) dan risau bagaimana Allah Subhanahu wa ta’ala memudahkan langkah tuan rumah menuju masjid. Mutakallim menyampaikan maksud dan tujuan silaturrahim, targhib mengenai kebesaran Allah dan alam akhirat, serta pentingnya iman dan amal shalih. Kemudian tasykil ke masjid. (pembicaraan tidak panjang seperti bayan dan tidak pendek seperti i’lan(pengumuman) , sesuai dengan kapasitas orang yang dijumpai (pembicaraan tidak mesti seragam).
  • Jaulah ditangguhkan sebelum waktu adzan, dengan amir rombongan memberi  targhib dan mengingatkan lagi bahwa jaulah ini di niatkan untuk seluruh alam dan niat akan dilanjutkan sampai anak cucu kelak sampai hari kiamat. Dan perbanyak istighfar sebab mungkin banyak melanggar tertib, dan juga karena masih banyak saudara muslim  yang belum tertunaikan hak-haknya.
  • Jaulah dilakukan sebelum shalat waktu Maghrib, atau sesuai dengan kondisi masyarakat setempat. Apabila masyarakat rata-rata berada dirumah pada malam hari, jaulah dilakukan ba’da Maghrib dan bayannya ba’da Isya (diantara dua waktu shalat).

3 comments so far

  1. qomaruzzaman ar-rifa'i on

    assalamu alaikum syeh….
    boleh numpang dua setengah jam nih…walaupun sebentar..ok
    jaulah adalah tulang punggung da’wah
    da’wah adalah tulang punggungnya agama
    badan tanpa tulang punggung tidak akan tegak, begitu pula agama tanpa da’wah tidak akan tegakda’wah tanpa jaulah tidak akan tersebar ke seluruh alam.doakan syeh ana azam jaulah ke india pakistan bangladesh.

  2. isa widodo on

    SEMOGA KITA ISTIQOMAH DALAM USAHA DAKWAH YANG MULIA INI AMIN 3X

  3. Delarocha on

    4 bulan.. Manthaaaaff..


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: